Nilai Semantik dari “Bertanya”

Saat ini “bertanya” telah menjadi kegiatan yang mengisi ruang kehidupan manusia dan mesin, khususnya melalui internet. Beragam media percakapan online, forum diskusi, media sosial, komentar online, hingga algoritma belajar dan latihan untuk mesin, dst, kerap kali menampilkan beragam pertanyaan dan jawaban. Bertanya pun telah menjadi bagian dari bisnis yang telah diabstraksi baik manusia maupun robot atau algoritma yang dibuat khusus untuk terlibat percakapan. Lalu bagaimanakah nilai-nilai dari pertanyaan ini? Mari kita lihat seberapa jauh kita telah terlibat dengan ini.

Kekuatan Bertanya

Tidak ada yang memiliki kekuatan yang dapat mendorong perputaran roda pemahaman bagi seorang manusia selain dengan “bertanya”. Bertanya ibarat “bahan bakar” yang telah menggerakan roda peradaban manusia sejak dahulu kala. Orang yg bertanya menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki roda pemahaman yang sedang aktif berputar — memiliki gambaran mental yang aktif tentang dunia, tentang data, tentang benda-benda, tentang realitas, dan bahkan hal-hal yg berada di atasnya.

Selanjutnya, persoalan benar atau tidaknya pemahaman tersebut tergantung dari jenis bahan bakarnya. Bahan bakar bagi pemahaman bukan data, bukan benda-benda, dan juga tidak ada keterkaitan identik dengan jawaban yang diberikan oleh orang lain. Karena hal-hal itu semua tidak akan menjadi identik dengan gambaran mental yang dibentuk seseorang ketika masuk melalui pikirannya.

“Bahan bakar” yang paling bisa memicu — bahkan juga memfilter — gambaran pemahaman seseorang tentang dunia fisik dan di atasnya (metafisik), yaitu bertanya.

Namun yang perlu ditekankan di sini bahwa pertanyaan itu ada dua jenis. Untuk memudahkan penyebutan, jenis pertama adalah pertanyaan baik, dan jenis lainnya pertanyaan buruk. Penyebutan ini tidak hanya bagus untuk manusia, tapi juga untuk algoritma pembelajaran mesin.

Pertanyaan baik akan memicu aktifitas mental si penanya ke arah pemahaman yang lebih lengkap dan solid. Sebaliknya, pertanyaan buruk adalah pertanyaan yang bahan bakarnya buruk, dan tidak ada aktifitas mental positif yang bisa dihasilkan dari jenis pertanyaan buruk tersebut.

Bertanya akan memicu keingintahuan, dan idealnya keingintahuan tersebut bisa menciptakan pemahaman yang lebih lengkap dan solid. Tapi jika jenis pertanyaannya buruk, maka siklus pemahaman berpotensi terganggu dan bahkan pemahaman bisa semakin menyempit. Oleh karena itu mari kita lihat, apa itu “bertanya”? Seperti apakah pertanyaan yang buruk? Dan kenapa mengajukan pertanyaan baik jauh lebih penting daripada menemukan jawabannya.

Pertanyaan vs Jawaban

Georg Cantor pernah mengatakan:

In Mathematics the art of proposing a question must be held of higher value than solving it.

Kutipan di atas jelaslah dimaksudkan untuk Matematika. Bahwa mengajukan pertanyaan yang baik adalah lebih penting daripada menemukan jawabannya. Apalagi bila di dalam upaya mencari jawaban tersebut diisi oleh jargon-jargon yang tidak penting.

Kian hari tampaknya kutipan tersebut semakin relevan di bidang AI, tidak hanya untuk matematika saja. Banyak sekali saya temukan jenis-jenis pertanyaan yang dipenuhi jargon-jargon yang tidak perlu, bahkan mengulang pertanyaan yang orang lain sudah menanyakan sebelumnya. Ada pula yang menanyakan sesuatu kepada orang lain yang sang penanya sendiri sudah bisa menebak jawabannya, atau sebenarnya dia sendiri bisa menemukan sendiri jawabannya. Ini secara semantik tidak menghasilkan apa-apa, bahkan termasuk kategori pertanyaan buruk.

Pertanyaan Buruk

Pertanyaan buruk dapat dilihat dari kontennya yang salah, penuh dengan label yang tidak perlu, perulangan atau secara sintaksis rusak. Tetapi lebih dari segalanya, ciri utama dari pertanyaan buruk adalah mendorong sang penanya untuk menebak apa yang dipikirkan oleh orang yang ditanya olehnya.

Pertanyaan buruk juga adalah pertanyaan yang berisi kebingungan dan sulit dijawab. Ini memang kelihatannya ironis, bahwa pertanyaan buruk biasanya lebih sulit dijawab daripada pertanyaan yang baik.

Bertanya adalah seni dalam algoritma belajar. Seni mengajukan pertanyaan yang baik adalah bukti terbaik dari pemahaman yang ada, jauh melampaui kepuasan sementara dari menemukan “jawaban” yang benar.

Jadi apa yang membuat pertanyaan buruk? Tergantung pada apa yang menurut sang penanya harus “dihasilkan” dari pertanyaan tersebut. Apakah untuk menghasilkan jawaban yang memuaskan dan rapi? Apakah untuk label atau jargon tertentu? Apakah untuk mencoba masuk ke pikiran orang yang ditanya?

Cobalah ini direnungkan, dan paksa diri Anda sendiri untuk kembali melihat lebih dekat bagaimana cara Anda tahu apa yang Anda ketahui. Ya, nilai pemahaman itulah yang membuat pertanyaan jauh lebih penting dan lebih bernilai daripada sekedar menemukan “jawaban” yang benar.

Sebuah pertanyaan yang benar akan membuat seorang pencetus pertanyaan itu tidak bingung, melainkan ia tetap dalam konten, dalam pikiran mereka sendiri, dalam roda pemahaman dia sendiri, dalam realitas mental dia sendiri, dan bukan mencoba menebak ke dalam pikiran orang lain. Karena pikiran Anda tidak akan pernah identik dengan pikiran orang lain, dan ini hanya akan membuat anda bingung.

Sebuah pertanyaan buruk juga akan menciptakan ilusi di titik akhir berpikir — yang seolah sang penanya telah tiba di suatu tempat di mana ia memahami pikiran orang lain. Dan ketika itu terjadi, pertanyaan itu telah hancur dan rusak, dan mental mereka duduk pasif dan menunggu pertanyaan lain datang, dan mengira bahwa mereka telah berhasil padahal tidak.

Tips untuk Mengajukan Pertanyaan

Dalam segala jenis pertanyaan yang diajukan — baik yang ditujukan ke orang lain, dalam diskusi, untuk penelitian, untuk melatih mesin, atau untuk direnungkan sendiri atau bersama— berupayalah untuk mengajukan pertanyaan yang bagus. Caranya, buatlah peta dan atau desain untuk pengembangan pertanyaan yang akan diajukan. Perbaiki sintak dan semantik pertanyaan tersebut. Perlahan-lahan kita dapat melihat cahaya pemahaman dari pertanyaan yang akan diajukan itu jika itu dilakukan dengan benar. Nyatakan pertanyaan itu dalam nadanya yang tepat. Sederhanakan kembali sintaks atau lihat lagi implikasinya berulang-ulang, sampai kebingungan telah dihilangkan dan hanya ada gagasan dan pemahaman yang tersisa. Sampai pertanyaan yang diajukan adalah benar menanyakan dengan tepat apa yang seharusnya, dan tidak lebih atau tidak kurang.

Model-Model Matematika untuk Rasionalisasi Publik Baru

Bacaan :