Penelitian Terkini Persamaan Helmholtz dari Dr. Yogi Ahmad Erlangga

Baru-baru ini Dr. Yogi Ahmad Erlangga jadi buah bibir di kalangan ilmuwan dan matematikawan baik dari dalam maupun luar negeri, hingga masyarakat umum. Di internet juga ramai dibicarakan. Ilmuwan dan matematikawan asal Tasikmalaya ini telah berhasil mencatatkan sejarah dalam membuat suatu refresentasi baru persamaan Helmholtz. Algoritma baru yang ditemukan Dr. Yogi juga telah diakui oleh kalangan ilmuwan dan di dunia industri, dapat mempersingkat proses pencarian minyak. Tidak menutup kemungkinan juga bisa diterapkan berbagai bidang lain. Di artikelnya, Phys.org menyebut Dr. Yogi sebagai matematikawan Belanda. Padahal Beliau adalah orang Indonesia, asli dari Tasikmalaya, hehe.. tempat kelahiran saya juga. Sebagai orang Tasik, tentu saya bangga dan semoga ke depannya akan banyak anak-anak Tasik yang jadi ilmuwan dan matematikawan yang bisa harumkan nama Indonesia di kancah internasional.

D7News.com sebagai portal berita IPTEK dan Penelitian juga turut mengupas tentang keberhasilan Dr. Yogi tersebut di sini.

Di blog ini saya akan mendaftar beberapa artikel menarik hasil riset Dr. Yogi tersebut dalam beberapa tahun belakangan ini. Bagi yang berminat ingin mempelajari temuan ini lebih dalam bisa pelajari paper hasil-hasil risetnya. Berikut beberapa bacaan menarik yang saya dapatkan :

Advertisements

Universal and Existential Quantifier

I was so impressed and sometimes confused to articulate past, present, and future tense in English. This maybe one reason why I feel so bad in English. Another reason maybe because of “unlucky” of letter A and E for the notation of “Universal quantifier” and “Existential quantifier” in Mathematical logic :

Universal and Existential Quantifier

I was also impressed with the use of such symbols that lead naturally to the Russell’s paradox.

In Arabic grammar, which I learned from classic books of Islamic scholastic literatures, the present and future tenses are very complex and unified in one class of syntax but with many rules of instantiation more sharpened, namely fi’il mudhori, and the past tenses in Arabic grammar is same as in English and named fi’il madhi.